Mursyid atau Muqaddam?
Ikhwan Bertanya..
Sebagai pengamal Thariqah Tijani, guru kita yang sebenar benarnya itu siapa, Mursyid atau Muqoddam???....
Apa bedanya Muqaddam dengan Mursyid?
Jawab :
Dalam kitab Al Faidlur Rabbani yg ditulis oleh Al Syeikh KH. Umar Baidlawi Basyaiban. terdapat penjelasan:
يا احمد، انت حبيبي وكل من احبك حبيبي، انت من الامنين وكل من احبك من الامنين، وفقراؤك فقرائ، وتلاميذك تلاميذي، واصحابك اصحابي. فعلم صلى الله عليه وسلم ان بين اصحابه وبين اصحاب هذا الشيح مناسبة تامة، وبتلك المناسبة كانوا عند الله اكبر من اكابر الاقطاب وااعارفين والاغواث ولو كانوا في الظاهر من جملة العوام.
Artinya: Wahai Ahmad sesungguhnya kamu adalah kekasihku dan setiap orang yang yang cinta kamu maka mereka itu adalah kekasihku,
Kamu adalah orang-orang yang yang aman dan orang yang senang dengan kamu tergolong orang-orang aman,
Dan pengikutmu adalah pengikutku dan murid-murid kamu adalah murid-murid ku sahabat-sahabat kamu adalah sahabat sahabatku.
kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberi tahu kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad attijani radhiallahu'anhu bahwa sesungguhnya antara sahabat nabi dan sahabat guru besar ini Yakni Sayyidi As Syeikh Ahmad bin Muhammad attijani radiallahu'anhu mempunyai hubungan yang yang sempurna dan dengan hubungan sempurna tersebut maka mereka di sisi Allah tergolong orang-orang maka mereka tergolong orang-orang yang martabatnya lebih tinggi dari para wali kutub, para Arifin dan para wali ghauts walaupun lahiriyahnya mereka tergolong orang awam.
----------
Dalam setiap rapat musyawarah para MUQADDAM, Syd Muhammad Al Habib At Tijani ra. (cucu Sayyidinasy Syekh Ahmad Tijani ra), beliau tegaskan perbedaan MURSYID dan MUQADDAM.
1. MURSYID (istilah guru thariqah diluar Tijani). Bertugas menalqin murid dan mentarbiyah murid tsb atas nama dirinya. Jadi murid yg ditalqin itu adalah murid dia langsung.
2. MUQADDAM baik MUQAYYAD maupun MUTLAQ bahkan KHALIFAH dlm Thariqah Tijani sekalipun, tugasnya hanya menalqin wirid pd calon murid. Sedangkan TARBIYAHNYA langsung oleh Rasulullah SAW dan Sayyidi Syeikh ra. Dan murid tersebut selanjutnya FUQARA' dan MURID / TALAMIDZ TIJANI. BUKAN MURID MUQADDAM.
Karena mursyid TUNGGAL (pemilik dan penanggung jawab Thariqah Tijani) adalah Rasulullah SAW, yg mana dlm praktek lapangannya diamanatkan kepada Khalifah Akbarnya yaitu Sayyidi Syeikh Ahmad At Tijani ra.
Jadi Rasulullah SAW adalah pemilik, penanggung jawab dan penjamin Thariqah Tijani, makanya salah satu nama thariqah ini adalah Thariqah Al Muhammadiyyah.
Kalau di perusahaan adalah KOMISARIS. Sedangkan Syd Syeikh Ahmad Tijani adalah penerima amanat untuk mengamalkan dan menyebarkan atas nama Rasulullah SAW.
Atau contoh lain, MUQADDAM itu tugasnya mirip PERUSAHAAN INSTALATIR LISTRI yg bertugas memasang istalasi resmi dan menyambungkan kabel rumah dengan intalasi PLN. Ketika sudah nyambung, pelanggan bukan milik instalatir. Tapi pelanggan PLN yg wajib patuh pd aturan PLN dan bayar tagihan kepada PLN.
Oleh krn itu tak satupun dari MUQADDAM bahkan KHALIFAH yg berhak mengakui seoran ikhwan sebagai murid pribadinya. Jika dia beritikad seperti itu, maka MUQADDAM tsb terputus dari Sayyidi Syeikh dan tidak ada madad dari Syd Syeikh untuknya dan orang orang yg ditalqinnya.
Ini bukan pendapat pribadi saya. Tapi ini adalah PENJELASAN LANGSUNG dari Syd Muhammad Alhabib At Tijani ra. Putra Khalifah 'aam Syd Amhammad At Tijani ra, di zawiyah Ainul Madi Aljazair.
MUQADDAM dlm arti GURU TA'LIM mengajarkan ilmu baik syariat dan wirid thariqah, syarat2 maupun adabnya. (guru TA'LIM). boleh. Tapi ngaku sebagai guru TARBIYAH RUHIYAH dlm thariqah TIDAK BOLEH. Krn ini sudah wilayah kerja Sayyidi Syeikh dan Rasulullah SAW. Oleh krn itu ikhwan Tijani seluruh dunia bisa kumpul, krn gurunya TUNGGAL. Beda dgn Thariqah lain, walaupun satu thariqah tp lain mursyid tdk bisa / tdk boleh tawajjuh bersama.
Ini yg dimaksud SATU PIPA MADAD dlm Tijani.
Jd inilah ATURAN TIJANI dari Syd Syeikh yg dijelaskan oleh Cucu Syd Syeikh. Perkara ada ikhwan mau beritikad lain, silahkan saja. Siapa tahu itu yg lebih shohih dari bimbingan cucu Syd Syeikh.
Syeikh Muhammad Yunus A Hamid
Komentar
Posting Komentar