Beberapa Catatan Untuk Ikhwan
:::: CATATAN UNTUK IKHWAN TIJANI ::::
1. Dianjurkan untuk menghadiahkan semua bacaan dzikir untuk Rasulullah SAW, dan menjadikan diri sebagai wakil dari syaikh Ahmad ra. Sembari meyakini bahwa Nabi sejatinya tidak membutuhkan hadiah bacaan kita, karena Allah telah cukupkan bagi beliau SAW, sebagaimana firman-Nya:
{ولسوف يعطيك ربك فترضى}
"Dan sungguh akan Tuhanmu akan memberikan kepadamu, hingga kamu senang (merasa cukup)"Dan semua amalan yang kita lakukan, tercatat dalam lembaran Nabi SAW, bukan sebagai hadiah. Karena Nabi adalah sumber sekaligus muallim (yang mengajarkan) amalan tersebut. Akan tetapi, kita sebut sebagai hadiah untuk Nabi tidak lain sebagai bentuk kecintaan, tidak lain.
Inti amalan kaum khas adalah menghadiahkan semua ganjaran ibadah mereka untuk Nabi, baik amalan yang wajib, ataupun sunnah.
Kau khas memandang diri mereka tidak labih sebagai wakil dari Nabi dalam menjalankan segala amalan ibadah.
2. Syaikh Ahmad berkata:
{لا تجوز الصلاة خلف مبغضين للشيخ، لأن الإمام شفيع، فكيف يتخذ شفيعا مبغضا لشيخه، فهو من موالاة المبغضين، وهو أمر تنفر عنه الطباع السليمة}
"Jangan menjadi makmum dalam solat yang imamnya membenci syaikh. Imam itu adalah orang yang mendatangkan syafaat. Lantas bagaimana mungkin seseorang menjadikan orang yang membeci gurunya untuk memberinya syafaat. Itu sama saja dia berada dalam perlindungan orang-orang yang membenci gurunya. Karenanya, ini tidak mungkin terjadi.3. Jika ada muqaddam yang keluar dari tariqah, maka sebaiknya semua murid Tijani yang ditalqin oleh muqaddam terebut untuk memperbaharui talqin mereka melalui muqaddam lainnya.
Namun jika tidak memperbaharui pun, tidak apa-apa. Mereka tetap sebagai ikhwan Tijani.
4. Jika setelah masuk tariqah Tijani, seseorang masih merokok, maka itu tidak membatalkan keberadaannya sebagai ikhwan Tijani. Akan tetapi, itu bisa menjadi perantara sulitnya masuk cahaya ke dalam hatinya.
5. Jika ada Ikhwan yang tidak menjalankan kewajiban tariqah, dan tidak ada kecintaan pada syaikh Ahmad, maka sejatinya dia hanya sekedar bertalqin. Dia bukan seorang Tijani.
Ikhwan Tijani adalah dia yang menjalankan kewajiban berdzikir tariqah, dan memiliki kecintaan yang khusus kepada syaikh Ahmad.
6. Jika seorang ikhwan Tijani ditanya: "Apakah kamu seorang Tijani?", lalu dia menjawab: "Bukan", maka seketika itu juga dia ijazah ketijaniannya terhapus.
7. Boleh saja seorang ikhwan menziarahi para waliyullah yang bukan Tijani. Asalkan ziarahnya itu karena Allah. Bukan karena istimdad atau ngalap berkah dari mereka.
Ziarah yg dimaskud adalah ziarah secara syari'at; mengucapkan salam, memberi madad dengan berdo'a, membaca Al-Qur'an, dan lain sebagainya.
Namun jika tujuan berziarah untuk ngalap berkah, dan beristimdad, maka seketika itu juga izin ketijanian orang tersebut terhapus. Kecuali menziarahi para sahabat radiyallahu anhum.
8. Seorang murid Tijani yang kecintaannya pada syaikh Ahmad sudah kuat mengakar, ikatannya pada tariqah tidak tergoyahkan lagi, dan meyakini bahwa dirinya tidak akan mengharapkan madad kepada selain Syaikh Ahmad; dari para waliyullah di luar Tijani, baik yang masih hidup ataupun yg telah tiada. Bahkan meskipun disaksikannya kekaromahan yang menunjukkan kewalian seseorang, dia tetap tidak terpengaruh, maka murid Tijani seperti ini sudah boleh dekat dengan para waliyullah di luar Tijani, dan boleh juga menziarahi kuburan para wali. Dia juga boleh ikut membaca manaqib dan kitab-kitab karya masyayikh di luar Tijani.
9. Adapun penggunaan Asrar Awfaq (bacaan khusus) berupa susunan kalimat atau huruf-huruf tertentu, dan yang semisalnya, maka syaikh Ahmad dalam hal ini menyatakan , awal mulanya beliau juga melakukan hal tersebut. Namun setelah bertemu dengan Rasulullah SAW secara terjaga, maka beliau tidak lagi melakukannya.
Nabi memerintahkan syaikh Ahmad cukup dengan amalan solawat Fatih berikut maratib (tingkatan) yang terkandung di dalamnya. Begitu juga dengan bacaan Ismul A'dzam dan maratibnya.
Syaikh Ahmad menggunakan Asrar Awfaq tidak lain untuk sampai pada kemulian tingkatan beliau. Bukan untuk tujuan duniawi.
Adapaun penggunaan Asrar Awfaq untuk tujuan duniawi, maka itu merupakan seauatu yang tercela secara syariat.
10. Orang yang mimpi bertemu syaikh Ahmad, atau bertemu secara sadar, kemudian dia diberikan wirid atau dzikir khusus yang bukan termasuk bacaan tariqah Tijaniyah secara umum, atau diberi izin untuk menalqin bacaan itu kepada siapa saja yang memintanya, maka itu adalah izin resmi dan bisa dipertanggung
jawabkan. Orang tersebut tidak butuh izin lagi dari seorang muqaddam tertentu.
Dia boleh menalqin siapa saja yang minta dan dianggapnya layak untuk mendapatkan wirid atau dzikir tersebut. Baik yang khusus, atau umum.
11. Syaikh Ahmad membiasakan diri dalam solat Subuh membaca ayat Kursi setelah Fatehah di rakaat pertama. Dan di rakaat kedua membaca surat Al-Qadar. Hal ini terus berlangsung sampai akhir hayat beliau.
12. Dalam solat, pada sujud pertama syaikh Ahmad membaca:
"سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله هو الله أكبر، ولا حول ولا قوة إلا بالله، ملء ما علم وعدد ما علم، وزنة ما علم"
itu dibaca satu kali. Namun ada riwayat lain yg menyebut baca tiga kali.Sedangkan dalam sujud kedua membaca solawat Fatih sekali. Ada riwayat lain bilang tiga kali.
Ada juga riwayat lain yang mengatakan kalau syaikh Ahmad menggabung bacaan doa tersbut dan solawat Fatih dalam setiap sujud beliau.
-----------------
Bersambung...
-ZUS-
Komentar
Posting Komentar