JANGAN KACAUKAN FREKWENSI

Kami baru saja mendapatkan cerita malam ini dari seseorang yg pernah talqin Tareqat tijani yg belum genap satu tahun.

Sebuah studi kasus salah satu ikhwan Bangka baru-baru ini dan kami dapatkan cerita langsung dari yg bersangkutan malam ini (Jum'at 3 Juli 2020). Untuk Identitas kami rahasiakan.

Tersebut si Fulan merasakan beberapa waktu kebelakang merasakan "malas" mengamalkan wirid Thoriqoh Tijani bahkan sempat meninggalkan wirid beberapa waktu lamanya.

Berselang beberapa waktu setelah itu minta ditalqin ulang oleh Muqoddam yg mentalqin nya semula.

Kami sempat bertanya kpd si Fulan kenapa ia meninggalkan wirid sejak beberapa waktu kebelakang. Dari uraian cerita singkat rekam jejak nya ke belakang.

Singkat cerita, si Fulan mendatangi lagi Muqoddam yg pernah mentalqin nya bbrp bulan yg lalu. Semula Muqoddam menolak utk mentalqin ulang. Namun, karena ngotot utk talqin lagi. Ya, sudah kamu harus talqin kembali dan harus memperhatikan syarat2nya. Dan, mengqadha semua wirid selama waktu yg ditinggalkan, jelas Muqoddam.

Dari rentetan kasus tsb di atas. Kami mencoba menganalisa kasus tersebut. Ternyata ada beberapa faktor yg mempengaruhi malasnya/berat si Fulan mengamalkan wirid Thoriqoh Tijani dan meninggalkan wirid.

Pertama, si Fulan menyengaja Ziarah kesalah satu Auliya' di Pulau Bangka karena diajak keluarga yg masih zuriat wali tersebut dengan alasan tak enak menolak ajakan keluarga ( walau di makam Auliya' tsb tidak bertawasul dan lain sebagainya).

Faktor kedua, masih saja memajang foto wali lain atau Habaib di luar Tijani di rumahnya dengan sengaja.

Lalu faktor ketiga, ada sedikit kebandelan, masih saja membaca Amaliah di luar Tijani seperti membaca Ratibul Haddad dll

Dari beberapa faktor tersebut di atas. Kami menyoroti sebuah pemahaman sebaiknya kita mengetahui tentang SYEIKH dan AL HADROH.

Kalau kita asumsikan sebuah gelombang radio, seorang "AL WÂRITSUL MUHAMMADY" atau seorang Syeikh Thoriqoh mempunyai Frekuensi Khusus (Al Hadroh). Ingat ! FREKUENSI KHUSUS !! yang tidak dibagi-bagi.

Dan "al hadlroh" yg dimaksud umpama frekuensi khusus dlm berkomunikasi dgn Rabbul ìzzati , tempat ia ijtimá bersama para pengikutnya di alam Mitsal/dialam ruhani ketika ibadah/tawajjuh kepada Al Malikul ádhom.

Dan setiap Syaikhutthoriqoh kebagian frekuensi khusus yg tdk dpt dimasuki oleh selain dia dan pengikutnya.

Oleh karenanya TDK SAH dan SGT TDK BISA MEMADUKAN DUA THORIQOH atau LEBIH SEKALIGUS dlm kehidupan ini .

Jika ada yg melakukan hal tsb , maka kedua hadlroh/frekuensi tsb sama2 tdk mengakuinya atau menolak.

Singkat kata, ketiga faktor penyebab malasnya/ beratnya ikhwan tersebut mengamalkan wirid Thoriqoh Tijani bahkan meninggalkan wirid karena terganggunya frekuensi.

Oleh karenanya jangan coba-coba mengacaukan frekuensi dengan sebab-sebab faktor tersebut di atas.

Itu satu masalah ( jgn dianggap remeh). Dilain kasus, ada juga yg meninggalkan wirid, ditimpa musibah tergelincir akidah menjadi pengikut nabi palsu merubah syahadat dan shalat dg bahasa Indonesia, Na'udzubillaah !!

Oleh karena itu, berhati hatilah! Orang yg ninggalkan wirid atau keluar dari Thareqat Tijani, bahaya terbesarnya adalah suulkhatimah. Na'udzubillah min dzalik.

Ikhwan akhwat fiillah, ketahuilah bahwa segala sesuatu idealnya harus mempunyai sandaran agar tak jatuh dalam kesesatan, kegalauan dan tak mudah goyah dan lain sebagainya.

Untuk itu, " Bersandarmu kepada Syeikh Tijani RA adalah bersandar kepada Nabi Muhammad SAW, dan
bersandar kepada Nabi SAW adalah bersandar kepada Allah yang Haq.”


Dengan bersandar kepada Allah swt akan membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebaliknya bila kita bepaling dari Syeikh RA berarti berpaling dari Rasulullah SAW.

Jika berpaling dari Rasulullah SAW berati berpaling dari Allah swt. Dan jika berpaling dari Allah
berarti berbuat zolim dan akan tertimpa panasnya api neraka ( terputus dari pemeliharaan dan
terputus dari nikmat ).Sungguh kerugian besar.Nauzubillah


من يطع الرسول فقد اطاع الله ومن تولى فما ارسلنا ك عليهم حفيظا

“ Barangsiapa mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa
berpaling ( dari ketaatan itu ) maka Kami tidak mengutusmu menjadi pemelihara bagi mereka.”
QS Annisa 80

Intisari dan kesimpulannya :
∆ Tuhan Banyak, Tetapi Tuhan Kita Hanya Satu Yaitu Allah SWT
∆ Agama Banyak, Tetapi Agama Yang Kita Pilih Hanya Satu Yaitu Islam
∆ Nabi Banyak Sekali Jumlahnya ( 124.000 ), Tetapi Nabi Panutan Kita Hanya Satu
Yaitu Sayyidina Nabi Muhammad Rasulullah SAW
∆ Wali Banyak Sekali Jumlahnya, Tetapi Wali Panutan Kita Hanya Satu Yaitu Sayyidina Syeikh Ahmad Tijani RA

Semoga kita tetap istiqamah mengamalkan tareqat tijani.

Kita doakan yg telah keluar Thoriqoh Tijani semoga mereka tobat dan kembali menjadi murid Syekh Tijani, aamiin.

Terganggunya frekwensi itu masih mending, kalau putus tdk ad frekwensinya sungguh sangat rugi. Memang ketika melanggar syarat tak serta merta dirasa perubahannya, berwirid mulai malas, ke zawiyah mulai berkurang krn diuji dg kesibukan, trus akhirnya, tak pernah nongol lagi, zuriat syekh tijani besilaturrahim tdk ada getaran utk bertemu, bertemu muqaddam enggan.

Rasa mahabbah mulai berkurang, yg fatal timbul meremehkan dan membenci syekh, na'uzubillah. 

Berteman dg pembenci atau org yg memusuhi tarekat ini berpengaruh utk melanggar syarat yg lain, termasuk memajang foto syekh yg lain, apalagi sampai mencopot foto muqaddam dan mengganti dg foto syekh yg lain.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki seorang Tijani?

Mursyid atau Muqaddam?

DOA MEMINUM AIR ( dengan izin Allah membawa manfaat luar biasa )