SYARAT-SYARAT KEWAJIBAN-KEWAJIBAN DALAM THORIQOH AT TIJANIYYAH
Oleh : Zainul Arifin Zhen
Thoriqoh At Tijaniyyah dalam mendidik, mengarahkan dan memelihara murid-muridnya yang dalam istilahnya disebut Ikhwan Thoriqoh Tijaniyyah / Ikhwan Tijany, mempunyai syarat-syarat dan peraturan-peraturan, meliputi antara lain :
1. Syarat masuk Thoriqoh Tijaniyyah.
2. Kewajiban atas Ikhwan Tijany
3. Larangan atas Ikhwan Tijany
4. Peraturan dan cara melaksanakan dzikir Thoriqoh Tijaniyyah.
Bab Larangan-larangan bagi Ikhwan Tijany
1. Tidak boleh mencaci, membenci dan memusuhi Syech Ahmad Tijany ra.
2. Tidak boleh ziaroh kepada wali yang bukan Thoriqoh Tijaniyyah (khusus mengenai soal Robithoh saja).
3. Tidak boleh memberi wirid Thoriqoh Tijaniyyah tanpa idzin yang sah.
4. Tidak boleh meremehkan wirid Thoriqoh Tijaniyyah.
5. Tidak boleh memutuskan hubungan dengan makhluq tanpa ada idzin Syara’ terutama dengan ikhwan tijany lainnya.
6. Tidak boleh merasa aman dari Makrillah/tipu daya Alloh SWT.
Penjelasan :
®. Ziaroh kepada wali yang bukan Thoriqoh Tijaniyyah yang tidak boleh bagi ikhwan Tijany adalah ziaroh karena Ta’alluq ziaroh untuk tawassul.
Apabila ziaroh itu karena silaturrohmi atau ziaroh untuk mengaji atau menuntut ilmu semata-mata karena Alloh SWT, maka boleh berziaroh.
Tawassul Thoriqoh Tijaniyyah sebagai berikut :
1. Nabi Muhammad SAW.
2. Para Nabi, Sahabat Nabi, Ahlul Bait (keluarga Nabi saat itu).
3. Para 'Ulama yg telah menyebarkan agama Islam khususnya Syech Ahmad Tijani ra.
4. Para malaikat sekeliling Arsy.
5. Para Muqoddam.
6. Hadiah Fatihah pada orang yang selain Thoriqoh Tijaniyyah. Contoh : Hadiah fatihah buat Syech Fulan.
Dalam Toriqoh Tijaniyyah, Tawassulnya yang diatur alias tidak boleh sembarangan. Karena dikhawatirkan ada kecondongan hati/bisikan-bisikan amalan dari yang lain. Karena Syech Ahmad Tijany ra menginginkan supaya kita sampai kepada Alloh SWT dengan satu sungai, tidak ada percampuran dengan yang lain.
Thoriqoh Tijaniyyah tidak ada larangan ziaroh, yang ada ialah mengatur cara berziaroh. Lebih-lebih ziaroh kepada semua 'aulia sangat dianjurkan,karena mereka adalah kekasih Alloh SWT dan kita juga wajib mencintainya.
Ziaroh sesama muslim hukumnya Sunnah, baik waktu masih hidup atau sudah mati.
Jadi, ziaroh kita ke orang sholeh atau muslim selain Thoriqoh Tijaniyyah adalah semata-mata karena silaturrohmi dan hadiah Fatihah.
“Bahwa Syech Ahmad Tijany RA tidak melarang ziaroh secara umum, karena beliau tidak pernah melarang siapapun dari pengikut Thoriqohnya menuntut ilmu kepada semua Wali atau 'Ulama, tidak melarang menghadiri majlis (ta’lim) mereka, tidak melarang mendengarkan wejangan-wejangan dan perkataan mereka dan tidak melarang mengadakan hubungan/ziaroh karena Alloh SWT Dan silaturrohmi". (Kitab Rimah Hizburrohim 'Ala Nuhuri Hizbirrojim Karya Syech 'Umar bin Sa'id Al-Fauti As-Sinigholi RA. : 1 / 145).
Dan Ikhwan Tijany berkewajiban menuntut ilmu untuk menjaga ‘aqidah dan amal ibadah mereka.
Ketahuilah, bahwa semua orang mukallaf berkewajiban menghasilkan ilmu yang menjadikannya sah ‘aqidahnya sesuai dengan madzhab Ahlus Sunnah wal jama'ah dan ilmu-ilmu yang menjadikan amal ibadahnya sehingga menjadi cocok dengan syari’at yang suci itu.
Larangan ziaroh atas murid / ikhwan thoriqoh tijaniyyah bukan hanya menjadi syarat dalam Thoriqoh Tijaniyyah saja, Thoriqoh-thotiqoh lain malah lebih ketat lagi daripada thoriqah Tijaniyyah.
Dalam Thoriqoh Tijaniyyah, ziaroh kepada muqoddam lain yang tidak ikut membaiat dirinya adalah hukumnya boleh, termasuk pula ziaroh untuk bertemu dan berbicara tentang thoriqoh dengan ikhwan dari muqoddam lain juga boleh. Sedangkan thoriqoh-thoriqoh lain, ziaroh kepada mursyid lain dan ziaroh kepada murid dari mursyid lain itu dilarang. Cuma larangan ziaroh ini di thoriqoh-thoriqoh lain selain thoriqoh tijaniyyah cenderung tidak disampaikan apa adanya (disembunyikan). Sedangkan dalam Thoriqoh Tijaniyyah, hal ini wajib disampaikan terutama ketika calon ikhwan yang mau bai’at.
Para muqoddam wajib menjelaskan syarat-syarat dan kewajiban serta larangan terlebih dulu dan wajib bertanya kepada calon ikhwan tersebut; Apakah calon ikhwan itu sanggup dan bersedia menerima dan menepati syarat-syarat tersebut atau tidak. Jika sanggup baru boleh dibai’at, jika tidak sanggup maka cukup sebagai muhibbin saja.
Sebelum Sayyidi Syech Ahmad At Tijany ra melarang ikhwan tijany untuk berziaroh kepada orang selain thoriqoh tijaniyyah secara khusus, sudah ada larangan ziaroh bagi murid Thoriqoh-thoriqoh selain thoriqoh tijaniyyah untuk ziaroh ke yang selain thoriqohnya. Syech Muhyiddin Ibnul 'Aroby Al Hatimiy ra berkata : “Seorang guru thoriqoh tidak mempermudah muridnya berijtima’ dengan guru lain, karena akan menimbulkan keraguan bagi si murid, tentang siapa diantara keduanya yang lebih tinggi (derajatnya) dan kepada siapa dia sebaiknya akan berguru. Dan Apabila timbul keragu-raguan, maka si murid dilempar oleh hati mereka sendiri. Karena itu, dia tidak akan memperoleh manfa'at dari keduanya. Jadi tujuan mengatur ziaroh ialah untuk menjaga kemantapan hati si murid agar ia tidak keluar dari rangkulan gurunya sampai menghasilkan kesempurnaan”.
Syech Muhammad Al Munir dalam kitab Tuhfatus Saalikin juga berkata sebagai berikut : “Dan ketahuilah, melarang berziaroh ke yang lainnya adalah wajib bagi guru Thoriqoh selama mereka (para murid) belum mencapai kesempurnaan dalam keyakinan”.
Sayyidi Uwais bin ‘Amir Al Qorniy ra adalah sebaik-baik tabi’in berdasarkan hadits shohih Muslim. Ketika Hakim bin Maryam berkata : “Hai Uwais, Marilah kita adakan hubungan dengan ziaroh dan pertemuan”. Maka Uwais Al Qorniy menjawab : “Saya telah mengadakan hubungan dengan kamu dengan apa yang lebih bermanfa'at dari pada hubungan ziaroh dan pertemuan, yaitu do'a dari kejauhan. Sebab ziaroh itu mengandung unsur-unsur memperlihatkan kebolehan, berhias diri dan menampakkan yang tidak sesungguhnya".
Dilain pihak, ikhwan Thoriqoh Tijaniyyah berkewajiban menuntut ilmu untuk menjaga ‘aqidah dan amal ibadahnya. Hal ini telah disampaikan pula oleh Sayyidi Syech Ahmad At Tijany ra sebagaimana dipaparkan dalam kitab "Rimah" yang artinya :
“Ketahuilah, Bahwa semua orang mukallaf berkewajiban menghasilkan ilmu yang menjadikan sah ‘aqidahnya sesuai dengan madzhab ahlus sunnah wal jama’ah dan ilmu-ilmu yang menjadikan sah amal ibadahnya sehingga cocok dengan syari’at yang suci itu. Dan wajib bagi orang yang mengikuti Thoriqoh para Ahlulloh (wali Alloh) yang benar, yaitu mencari ilmu yang mengantarkan pada kebenaran amal ibadahnya sesuai dengan salah satu madzhab Imam yang 4 (empat)”. (Kitab Rimah : 1/99).
®. Yang dimaksud meremehkan wirid ialah musim-musiman dalam melaksanakan wirid Thoriqoh , mengundurkan waktunya, padahal tidak ada udzur dan melaksanakan wirid sambil bersandar tanpa udzur.
®. Yang di maksud Makrillah ialah siksa/ adzab Alloh SWT.
Yang tampaknya adalah rohmat-Nya atau kelihatan seperti rohmat Alloh SWT. Tapi sebetulnya adalah adzab Alloh SWT.
D. Peraturan-Peraturan saat melakukan wirid/dzikir Thoriqoh Tijaniyyah :
1. Dalam keadaan normal, suara bacaan dzikir harus terdengar oleh telinga si pembaca sendiri
2. Harus suci dari najis, baik badan, pakaian, tempat maupun apa saja yang dibawanya.
3. Harus suci dari hadats, baik hadats kecil maupun hadats besar.
4. Harus menutupi aurot sebagaimana dalam sholat, baik bagi pria maupun wanita.
5. Tidak boleh berbicara selain wirid (selama wirid).
6. Harus menghadap qiblat.
7. Harus duduk.
8. Harus ijtima’ (kumpul/berjama'ah) dalam melaksanakan Wadhifah dan Hailalah sesudah 'ashar hari Jum’at apabila di daerahnya ada ikhwan.
Penjelasan :
®. Kalau udzur, boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan.
®. Kalau udzur, boleh tidak menghadap qiblat, seperti dalam perjalanan atau ijtima’.
®. Kalau ada udzur, boleh berbicara asalkan tidak lebih dari 2 (dua) kata. Kalau lebih dari 2 (dua) kata, maka wirid batal kecuali yang disebabkan oleh orang tuanya atau suaminya, sekalipun orang tua atau suaminya itu bukan ikhwan Tijany.
®. Selain 8 (delapan) peraturan itu, masih ada peraturan untuk kesempurnaan. yaitu :
9. Istihdhorul qudwah, yaitu waktu melaksanakan wirid dari awal sampai akhir adalah membayangkan seakan-akan berada dihadapan Syech Ahmad Tijany ra dan lebih utama membayangkan berada dihadapan Sayyidul Wujud Rosululloh SAW. Dengan keyakinan, bahwa beliaulah pembawa anda Wushul ilalloh.
10. Mengingat dan membayangkan maknanya wirid dari awal sampai akhir wirid. Kalau tidak bisa, maka supaya memperhatikan dan mendengarkan bacaan wirid yang di bacanya.
Syarat-Syarat membaca Sholawat Jauharotul Kamal :
Syarat-syarat membaca sholawat Jauharotul Kamal ada 4 (empat) :
1. Harus suci
2. Harus menghadap qiblat.
3. Harus duduk dan tidak boleh berjalan.
4. Tempatnya harus luas dan cukup untuk tujuh orang.
Kalau keempat syarat di atas tidak terpenuhi, maka tidak boleh membaca Jauharotul Kamal dan harus diganti dengan membaca sholawat faatih sebanyak 20 kali.
Hal-hal Yang Menyebabkan Keluar Dari Thoriqot Tijaniyyah :
1. Mengambil wirid thoriqot lain selain dari Thoriqot Tijaniyyah.
2. Ber-ta’alluq kepada yang lain/berpaling dari Syech Ahmad Tijani ra.
3. Berhenti dari mengamalkan wirid Thoriqot Tijaniyyah.
Melanggar salah satu dari 3 (tiga) larangan tersebut diatas, maka ia telah keluar dari Thoriqot Tijaniyah/batal thoriqotnya.
Kami mohon perlindungan dari demikian itu kepada Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aamiin.
والله اعلم بالصواب
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰی سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍۨ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي اِلٰی صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلٰی آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ صلّی اللّه عليه وسلّم وَبِجَاهِ شَيْخِنَا وَسَنَدِنَا دُنْيًا وَاُخْرًی سَيِّدِي اَبِي الْعَبَّاسِ احمد بن محمّد التِّجَانِي رضي اللّه عنه وعنّا به. آمين
Harap Maklum Adanya
ᴹᵒᴴᵒᵑ ᴹᵃᵃf ᴸᵃᴴᵎᴿ ᵝᵃᵗᴴᵎᵑ
sᴇᴍᴏɢᴀ ʙᴇʀᴍᴀɴfᴀᴀᴛ
Komentar
Posting Komentar